masa penurunan kerajaan sriwijaya
Masa penurunan
Sebuah lukisan dari Siam menunjukkan penyerangan Chola di Kedah.
Tahun
1017 dan
1025,
Rajendra Chola I, raja dari
dinasti Chola di
Koromandel,
India selatan, mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya. Berdasarkan
prasasti Tanjore bertarikh
1030, Kerajaan Chola telah menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya, seperti wilayah
Nikobar dan sekaligus berhasil menawan raja Sriwijaya yang berkuasa waktu itu
Sangrama-Vijayottunggawarman.
Selama beberapa dekade berikutnya, seluruh imperium Sriwijaya telah
berada dalam pengaruh dinasti Chola. Meskipun demikian Rajendra Chola I
tetap memberikan peluang kepada raja-raja yang ditaklukannya untuk tetap
berkuasa selama tetap tunduk kepadanya.
[55] Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya berita utusan
San-fo-ts'i ke Cina tahun
1028.
[56]
Faktor lain kemunduran Sriwijaya adalah faktor alam. Karena adanya pengendapan lumpur di
Sungai Musi dan beberapa anak sungai lainnya, sehingga
kapal-kapal dagang yang tiba di
Palembang semakin berkurang. Akibatnya, Kota Palembang semakin menjauh dari
laut dan menjadi tidak strategis. Akibat kapal dagang yang datang semakin berkurang,
pajak berkurang dan memperlemah
ekonomi dan posisi Sriwijaya.
Kerajaan Tanjungpura dan
Nan Sarunai
di Kalimantan adalah kerajaan yang sezaman dengan Sriwijaya, namun
Kerajaan Tanjungpura disebutkan dikelola oleh pelarian orang
Melayu Sriwijaya, yang ketika pada saat itu Sriwijaya diserang
Kerajaan Chola mereka bermigrasi ke
Kalimantan Selatan.
[58]
Namun pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola. Kronik Tiongkok menyebutkan bahwa pada tahun
1079,
Kulothunga Chola I (
Ti-hua-ka-lo) raja
dinasti Chola
disebut juga sebagai raja San-fo-ts'i, yang kemudian mengirimkan utusan
untuk membantu perbaikan candi dekat Kanton. Selanjutnya dalam berita
Cina yang berjudul
Sung Hui Yao disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun
1082
masih mengirimkan utusan pada masa Cina di bawah pemerintahan Kaisar
Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja
Kien-pi
bawahan San-fo-tsi, yang merupakan surat dari putri raja yang diserahi
urusan negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan,
rumbia, dan 13 potong pakaian. Kemudian juga mengirimkan utusan
berikutnya pada tahun
1088.
[2]
Pengaruh invasi Rajendra Chola I, terhadap hegemoni Sriwijaya atas
raja-raja bawahannya melemah. Beberapa daerah taklukan melepaskan diri,
sampai muncul
Dharmasraya dan
Pagaruyung
sebagai kekuatan baru yang kemudian menguasai kembali wilayah jajahan
Sriwijaya mulai dari kawasan Semenanjung Malaya, Sumatera, sampai Jawa
bagian barat.
Pada tahun
1079 dan
1088, catatan Cina menunjukkan bahwa Sriwijaya mengirimkan duta besar pada Cina.
[59] Khususnya pada tahun
1079, masing-masing duta besar tersebut mengunjungi Cina.
[59] Ini menunjukkan bahwa ibu kota Sriwijaya selalu bergeser dari satu
kota maupun kota lainnya selama periode tersebut.
[59] Ekspedisi Chola mengubah jalur perdagangan dan melemahkan Palembang, yang memungkinkan
Jambi untuk mengambil kepemimpinan Sriwijaya pada
abad ke-11.
Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku
Chu-fan-chi[61] yang ditulis pada tahun 1178,
Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan
Asia Tenggara
terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni San-fo-ts'i dan
Cho-po (Jawa). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha
dan Hindu, sedangkan rakyat San-fo-ts'i memeluk Budha, dan memiliki 15
daerah bawahan yang meliputi;
Si-lan (
Kamboja),
Tan-ma-ling (
Tambralingga, Ligor, selatan Thailand),
Kia-lo-hi (Grahi,
Chaiya sekarang, selatan Thailand),
Ling-ya-si-kia (
Langkasuka),
Kilantan (
Kelantan),
Pong-fong (
Pahang),
Tong-ya-nong (
Terengganu),
Fo-lo-an (muara sungai
Dungun daerah Terengganu sekarang),
Ji-lo-t'ing (
Cherating, pantai timur semenanjung malaya),
Ts'ien-mai (
Semawe, pantai timur semenanjung malaya),
Pa-t'a (
Sungai Paka, pantai timur Semenanjung Malaya),
Lan-wu-li (
Lamuri di
Aceh),
Pa-lin-fong (
Palembang),
Kien-pi (
Jambi), dan
Sin-t'o (
Sunda).
[6][13]
Namun, istilah
San-fo-tsi terutama pada tahun 1178 tidak lagi identik dengan Sriwijaya, melainkan telah identik dengan
Dharmasraya.
Dari daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut, ternyata adalah
wilayah jajahan Kerajaan Dharmasraya. Walaupun sumber Tiongkok tetap
menyebut San-fo-tsi sebagai kerajaan yang berada di kawasan
Laut Cina Selatan. Hal ini karena dalam
Pararaton telah disebutkan
Malayu. Kitab ini mengisahkan bahwa
Kertanagara raja
Singhasari, mengirim sebuah
ekspedisi Pamalayu atau
Pamalayu, dan kemudian menghadiahkan
Arca Amoghapasa kepada raja Melayu,
Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa di
Dharmasraya sebagaimana yang tertulis pada
prasasti Padang Roco. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan manuskrip yang terdapat pada
prasasti Grahi. Begitu juga dalam
Nagarakretagama yang menguraikan tentang daerah jajahan
Majapahit, juga sudah tidak menyebutkan lagi nama Sriwijaya untuk kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan Sriwijaya.